Pengertian Resensi:
Resensi /résénsi/ n menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah pertimbangan atau pembicaraan tentang buku; ulasan buku:
Sedangkan kata "mengulas" v itu sendiri mempunyai arti memberkan penjelasan dan komentar; menafsirkan (penerangan lanjut, pendapat, dsb); mempelajari (menyelidiki) dan kata "ulasan" n mempunyai arti kupasan; tafsiran; komentar:
Sedangkan kata "mengulas" v itu sendiri mempunyai arti memberkan penjelasan dan komentar; menafsirkan (penerangan lanjut, pendapat, dsb); mempelajari (menyelidiki) dan kata "ulasan" n mempunyai arti kupasan; tafsiran; komentar:
Resensi berasal dari bahasa Latin, yaitu dari kata kerja revidere atau recensere. Artinya melihat kembali, menimbang, atau menilai. Arti yang sama untuk istilah itu dalam bahasa Belanda dikenal dengan recensie, sedangkan dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah review. Tiga istilah itu mengacu pada hal yang sama, yakni mengulas buku.
Tindakan meresensi dapat berarti memberikan penilaian, mengungkap kembali isi buku, membahas, atau mengkritik buku. Dengan pengertian yang cukup luas itu, maksud ditulisnya resensi buku tentu menginformasikan isi buku kepada masyarakat luas
Secara singkat, resensi ialah suatu tulisan atau ulasan mengenai nilai sebuah hasil karya. Tujuan resensi adalah menyampaikan kepada para pembaca apakah sebuah buku atau hasil karya itu patut mendapat sambutan dari masyarakat atau tidak.
Unsur-Unsur Resensi:
1. Judul resensi
2. Identitas buku yang diresensi
3. Pendahuluan(memperkenalkan pengarang,tujuan pengarang buku,luncuran pertanyaan, dll)
4. Inti/isi resensi
* Pokok-pokok isi
* Keunggulan buku
* Kekurangan buku
5. Penutup
* Saran-saran yang mungkin ditambahkan dalam isi buku dan keterbacaan
Contoh Resensi :
The Coke Machine, Kebenaran Kotor di Balik Minuman Ringan Favorit Dunia
Judul : The Coke Machine, Kebenaran Kotor di Balik Minuman Ringan Favorit Dunia
Begitu juga dengan perusahaan minuman ringan bersoda The Coca Cola Company. Perusahaan yang telah mendunia ini dilaporkan memiliki sejumlah persoalan yang selama ini tidak diketahui oleh publik.
Buku yang ditulis oleh Michael Blanding ini menjelaskan bagaimana kemajuan perusahaan yang berdiri pada tahun 1892 itu bukan semata-mata karena kehebatan produknya, namun karena iklan.
Iklan Coca Cola yang begitu hebat telah membentuk berbagai citra tentang Coca Cola. Tak ayal lagi, Coca Cola tidak hanya sekadar brand yang mendunia, namun juga sebuah kultur.
Penerbit : Klub Sastra Bentang
Tahun terbit : 2007
Tebal buku : 306 hlm.
Harga buku : Rp.75.000,00
Salah satu yang terlihat menonjol di Buku ketiga dari tetralogi Laskar Pelangi adalah ingatan masa kecil dari tokoh utama sekaligus penulis buku ini, Andrea. Seperti saat Andrea harus menentukan arah kemana Ia dan Arai harus berjalan karena saat itu kompasnya ikut terampas oleh polisi di salah satu kota di Rusia. Saat itu Ia teringat kenangannya bersama Weh, seseorang dari masa lalunya, yang pernah mengajari bagaimana membaca rasi bintang yang sangat luas.ketika Ia bertemu dengan Imam masjid di Austria yang berasal dari Afghanistan, dia teringat dengan tokoh di masjid kampungnya, Taikong Hamim. Seorang tokoh agama di kampungnya yang telah membuat dirinya harus mencari nama pengganti bagi dirinya sendiri.
Buku ketiga dari tetralogi Laskar Pelangi ini menyuguhkan kepada pembaca, salah satu bentuk pengalaman dari seorang Andrea Hirata. Kisah-kisah di dalamnya merupakan simpul-simpul kejadian yang pernah Ia alami. Pendidikan, kisah romantisme, serta penjelajahannya menjadi media bagi dirinya menjalani kisah cintanya. Bagaimana semangatnya mencari A-Ling kemudian dia harus rela menerima hasil dari semangatnya itu. Kemudian bagaimana Ia tiba di Edensor, dalam sebuah perjalanan yang tidak direncanakan. Dan kejadian itu Ia jadikan simbol pertemuannya dengan A Ling.
Dan sebagai penutup dari resensi buku ketiga ini sebuah potongan kisah dari buku ini, ketika Andrea dan Arai dalam perjalanan pulang ke paris setelah selesai melakukan perjalanan sebagai backpacker,”….Tapi aku tetap merasa kesepian karena A Ling masih tak jelas rimbanya. Tak tahu lagi kemana mencarinya. Hanya dari novel kenangannya aku dapat menemukannya. Kubuka lagi novel lusuh itu, kubaca lagi keindahan desa khayalan Edensor untuk melipur rinduku.
Jalan-jalan desa menanjak berliku-liku dihiasi deretan pohon oak, berselang-seling di antara jerejak anggur yang ditelantarkan. Lebah madu berdengung mengerubuti petunia. Daffodil dan asturia tumbuh sepanjang pagar peternakan, berdesakan di celah-celah bangku batu. Di belakang rumah penduduk tumpah ruah dedaunan warna oranye, mendayu-dayu karena belain angin. Lalu terbentang luas padang rumput, permukaannya ditebari awan-awan kapas…
Sebuah kata wawancara menjadi sebuah undangan yang ditunggu-tunggu oleh Andrea dan Arai. Berbekal ijasah SMA keduanya mulai merantau ke tanah jawa. Dua kali mereka telah melakukan persiapan untuk menghadapi tes wawancara sebelum akhirnya mereka diterima bekerja sebagai sales peralatan dapur [untuk yang terakhir ini, mereka diterima bekerja tanpa tes wawancara sekalipun. Meski akhirnya mereka dipecat karena angka penjualannya memalukan.
Kemudian, Andrea diterima bekerja di sebuah kantor pos di Bogor sementara Arai bekerja sekaligus kuliah di kalimantan. Andrea senang menjadi Pengatur Muda Pos, wewenangnya adalah mencairkan wesel dengan nilai sampai seratus lima puluh ribu. Dan itu sangat berarti baginya karena dengan kekuasaannya itu dia bisa membantu para mahasiswa IPB yang miskin. Kemudian, setelah keduanya lulus kuliah, mereka mengikuti tes beasiswa untuk mengambil S-2 ke Eropa. Dan, mereka diterima di Sorbonne. Sebuah tempat yang belum pernah terbayangkan jauhnya. Yang mereka tahu hanyalah waktu tempuh yang akan mereka alami.
Dan, Andrea berusaha mencari A-Ling, kekasih hatinya yang telah terpisah sejak SMP untuk berpamitan. Dan Arai berpamitan kepada Zakia Nurmala, cintanya yang bertepuk sebelah tangan, melalui sepucuk surat.
Di tengah kehidupan perkuliahan di Eropa, keduanya juga mengalami banyak pengalaman baru. Menjadi orang yang berada ditengah persaingan mahasiswa luar negeri dirasakan sebagai pengalaman yang mengasyikkan. Perjalanan-perjalanan indah telah mereka ciptakan. Melakukan perjalanan di Eropa tanpa mengikuti paket pariwisata menjadikan perjalanan mereka lebih menyenangkan. Hal baru telah menjadi sahabat bagi semangat mereka berdua. Hingga keduanya melakukan perjalanan sebagai backpacker mengelilingi dua benua sekaligus. Eropa dan Afrika. Menjadi artis jalanan di berbagai tempat adalah buah hati bagi semangat mereka selama melakukan perjalanan itu.
Hingga akhirnya tibalah Andrea pada sebuah tempat yang dulu hanya bisa diceritakan oleh A-Ling setelah membaca sebuah novel. Edensor. Tempat yang ingin dituju oleh kekasih Andrea, seseorang yang telah menjadi bagian dari semangatnya.
Kehidupan masa kecil di Belitong telah meninggalkan bekas yang mendalam bagi seorang Andrea Hirata, tokoh utama sekaligus penulis buku ini. Pertemuannya dengan Weh, seorang pelaut kapal kecil di kampungnya, telah membuat dirinya bangga sebagai laki-laki, sebagai navigator alam. Bagaimana Iamengenang malam itu, malam dimana Weh mengajarkan cara membaca petunjuk alam. Dengan menggambari langit, Andrea terkagum-kagum kepada alam semesta.
Bagaimana Ia harus mencari sendiri sebuah nama sebagai pengganti namanya yang harus diganti. Dan Ia telah menemukan nama itu, mengadopsi nama seorang wanita Italia, Andrea Galliano yang mengancam bunuh diri apabila Elvis Presley tidak membaca suratnya. Dan tahukah Anda dimana dia menemukan nama itu? Nama itu tertulis pada sebuah artikel di majalah yang Ia baca.
Pengalaman – pengalaman di atas adalah beberapa mimpi yang telah dialami oleh seorang Andrea Hirata. Bagaimana Ia teringat pengalaman masa kecilnya ketika dia menjadi seorang backpacker. Baginya, pengalaman masa kecil di sebuah kampung di Belitong telah membawa dirinya menikmati menjadi seorang backpacker di daratan Eropa dan Afrika.
Dan kecintaanya pada seorang wanita keturunan cina, Njoo Xian Ling juga turut Ia bawa serta dalam perjalanan itu. Kemana-mana Ia akan menemui seseorang yang bernama A Ling yang telah Ia dapatkan melalui internet. Itu semua Ia lakukan demi menghabisi rasa penasarannya dimana A Ling berada, seperti apakah A Ling kini. Keinginannya bertemu A Ling dihidupi oleh kenangan indah pada saat Ia menaiki komedi putar bersama A Ling dan sebuah buku, kado dari A Ling.
Dan pada akhirnya, pada sebuah perjalanan di Inggris yang tidak Ia rencanakan, dirinya terpaku pada suatu lukisan hidup, seperti lukisan yang ada di buku novel, kado dari A Ling. Andrea telah berada di sebuah tempat bernama EDENSOR, Inggris.
Semua cerita yang terdapat dalam buku ketiga dari tetralogi laskar pelangi adalah simpul dari impian penulis pada masa kecil. Dan telah Ia alami sewaktu menjadi seorang backpacker di dua benua. Di resensi ke satu dari buku ini saya menyuguhkan, bagaimana seorang Andrea Hirata menceritakan pengalmannya mengalami hal – hal baru dan bahkan hal – hal yang telah Ia lakukan dulu yang kini mengalami ujung peristiwanya. Seperti pada saat Ia bertemu, bersalaman dan beramah tamah dengan Andrea Galliano [pemilik nama yang telah Ia pilih sendiri semasa kecil], pada sebuah pembukaan museum khusus Elvis Presley. Serta bagaimana Ia akhirnya sampai di daratan bernama Edensor, sebuah tempat yang dulu hanya dilukiskan keindahannya oleh A Ling, seseorang yang telah memberi kekuatan dalam perjalanannya.
Kekurangan dari novel ini adalah banyaknya istilah-istilah dan kalimat-kalimat yang sulit dimengerti oleh pembaca, seperti pada istilah Gracias senor dan la niege au sahara. Dan pada kalimat “…. Aku ingin menghirup berupa-rupa pengalaman lalu terjun bebas menyelami labirin lika liku hidup yang ujungnya tak dapat disangka. Aku mendamba kehidupan dengan kemungkinan-kemungkinan yang bereaksi satu sama lain seperti benturan molekul uranium: meletup tak terduga duga, menyerap, mengikat, mengganda, berkembang dan terurai…..”.
Dan pada akhir cerita yang membuat kita penasaran, novel ini hanya menceritakan ketika ikal menemukan desa khayalan A-Ling, Edensor. Bukan ikal bertemu dengan A-Ling. Sehingga rasanya kita diwajibkan membaca novel keempat Andrea Hirata, Marymah Karpov yang merupakan novel kelanjutan dari Edensor. Novel ini menceritakan tentang seorang wanita yaitu A-Ling.
Kelebihan dari buku ini yaitu kemampuan penulis menggambarkan tokoh-tokoh dalam novel Edensor yang dapat sangat kuat sehingga membuat pembaca terbawa dalam cerita ini. Dan novel ini juga dapat membawa pembaca seakan-akan mengalami sendiri pertiwa-peristiawa yang terjadi di novel ini.
Edensor sangat cocok bagi siswa SMA dan universitas yang dapat memotivasi semangat belajar mereka. Karena dapat memotivasi semangat belajar mereka. Karena novel ini menceritakan Ikal dan Arai yang tidak menduga kalau mereka dapat beasiswa untuk belajar ke Perancis, Eropa. Dan juga semangat penulis yang kokoh walau diterjang penderitaan. Dan Penulis sepertinya mengharapkan para pembaca agar mencontoh watak tokoh utama dalam mengarungi kehidupan.
Nilai-nilai sosial yang dapat dipetik dari buku ini adalah semangat juang dua orang laki-laki yang berkibar-kobar demi menempuh pendidikan dan pencarian cinta mereka.
Judul : The Coke Machine, Kebenaran Kotor di Balik Minuman Ringan Favorit Dunia
Penulis : Michael Blanding
Penerbit : Elex Media Komputindo
Terbit : 2011
Halaman : 420 Halaman
Harga : Rp. 99.800
Contoh Resensi Buku ini adalah sebagai berikut :
Korporasi raksasa yang mendunia selalu memiliki dua wajah yang bertolak belakang Di satu sisi ia dapat tampil cantik, namun di sisi lain ia memiliki wajah buruk yang selalu ingin dirahasiakan.
Korporasi raksasa yang mendunia selalu memiliki dua wajah yang bertolak belakang Di satu sisi ia dapat tampil cantik, namun di sisi lain ia memiliki wajah buruk yang selalu ingin dirahasiakan.
Begitu juga dengan perusahaan minuman ringan bersoda The Coca Cola Company. Perusahaan yang telah mendunia ini dilaporkan memiliki sejumlah persoalan yang selama ini tidak diketahui oleh publik.
Buku yang ditulis oleh Michael Blanding ini menjelaskan bagaimana kemajuan perusahaan yang berdiri pada tahun 1892 itu bukan semata-mata karena kehebatan produknya, namun karena iklan.
Iklan Coca Cola yang begitu hebat telah membentuk berbagai citra tentang Coca Cola. Tak ayal lagi, Coca Cola tidak hanya sekadar brand yang mendunia, namun juga sebuah kultur.
Sebagai sebuah
kultur Coca Cola menjadi bagian dari keseharian, terutama orang-orang
Amerika. Konsumsi Coca Cola pun menjadi sebuah simbol ataupun identitas
masyarakat Amerika.
Hasilnya, lingkar pinggang orang Amerika kian membesar. Penelitian menunjukkan bahwa minuman soda yang ditambahkan pada porsi setiap kali makan, akan menambah kemungkinan kegemukan sekitar 60 persen (hal. 90).
Di samping itu, Coca Cola pun telah masuk dalam dalam ritus-ritus keagamaan dan praktik budaya. Masyarakat yang hidup di perbukitan Chiapas Highlands, Meksiko, misalnya, kini telah melibatkan “si kaleng merah” dalam ritual-ritual keagamaan, ia menjadi bagian dari pemujaan.
Hal ini menunjukkan bagaimana Coca Cola telah mengubah kode-kode dalam praktik ritual. Ia telah menjungkirbalikkan nilai-nilai otentik budaya lokal. Jika memang Coca Cola concern dengan keberlangsungan budaya lokal, seharusnya ia dapat mengendalikan ini.
Persoalan yang harus dihadapi Coca Cola adalah persoalan pelanggaran hak-hak asasi buruh. Ini terjadi di Columbia. Di negara ini sejumlah kasus yang berakhir pada kematian buruh pabrik Coca Cola, beberapa kali terjadi.
Tuntutan buruh untuk memperoleh hak-haknya ternyata tidak selalu mendapat respon positif. Bahkan Dalam buku ini disampaiakan justru perusahaan yang berusaha untuk menghancurkan serikat pekerja yang menuntut hak-haknya.
Malah, dilukiskan dalam buku ini adanya kemungkinan disewanya tentara bayaran untuk menghentikan gerakan serikat pekerja. Di negeri yang sama juga dilakukan montaje judicial atau jebakan pengadilan terhadap para aktivis serikat pekerja.
Masalah lain yang terus menyudutkan Coca Cola adalah pencemaran lingkungan. Dari India dilaporkan bahwa perusahaan minuman bersoda itu telah mencemari lingkungan. Mereka membuang limbah pabrik dengan seenaknya.
Limbah pabrik itu telah memperburuk kondisi lingkungan. Bahkan hewan-hewan peliharaan mati karena meminum air dari sungai yang tercemar. Keinginan untuk mengubah keadaan ini juga tidak kunjung muncul.
Catatan lain tentang buku ini ialah, adanya ketidakberimbangan dalam menampilkan fakta mengenai Coca Cola. Hasilnya, buku ini terkesan sebagai black campaign terhadap perusahaan asal Amerika Serikat itu.
Hasilnya, lingkar pinggang orang Amerika kian membesar. Penelitian menunjukkan bahwa minuman soda yang ditambahkan pada porsi setiap kali makan, akan menambah kemungkinan kegemukan sekitar 60 persen (hal. 90).
Di samping itu, Coca Cola pun telah masuk dalam dalam ritus-ritus keagamaan dan praktik budaya. Masyarakat yang hidup di perbukitan Chiapas Highlands, Meksiko, misalnya, kini telah melibatkan “si kaleng merah” dalam ritual-ritual keagamaan, ia menjadi bagian dari pemujaan.
Hal ini menunjukkan bagaimana Coca Cola telah mengubah kode-kode dalam praktik ritual. Ia telah menjungkirbalikkan nilai-nilai otentik budaya lokal. Jika memang Coca Cola concern dengan keberlangsungan budaya lokal, seharusnya ia dapat mengendalikan ini.
Persoalan yang harus dihadapi Coca Cola adalah persoalan pelanggaran hak-hak asasi buruh. Ini terjadi di Columbia. Di negara ini sejumlah kasus yang berakhir pada kematian buruh pabrik Coca Cola, beberapa kali terjadi.
Tuntutan buruh untuk memperoleh hak-haknya ternyata tidak selalu mendapat respon positif. Bahkan Dalam buku ini disampaiakan justru perusahaan yang berusaha untuk menghancurkan serikat pekerja yang menuntut hak-haknya.
Malah, dilukiskan dalam buku ini adanya kemungkinan disewanya tentara bayaran untuk menghentikan gerakan serikat pekerja. Di negeri yang sama juga dilakukan montaje judicial atau jebakan pengadilan terhadap para aktivis serikat pekerja.
Masalah lain yang terus menyudutkan Coca Cola adalah pencemaran lingkungan. Dari India dilaporkan bahwa perusahaan minuman bersoda itu telah mencemari lingkungan. Mereka membuang limbah pabrik dengan seenaknya.
Limbah pabrik itu telah memperburuk kondisi lingkungan. Bahkan hewan-hewan peliharaan mati karena meminum air dari sungai yang tercemar. Keinginan untuk mengubah keadaan ini juga tidak kunjung muncul.
Catatan lain tentang buku ini ialah, adanya ketidakberimbangan dalam menampilkan fakta mengenai Coca Cola. Hasilnya, buku ini terkesan sebagai black campaign terhadap perusahaan asal Amerika Serikat itu.
Resensi Novel – Edensor (Andrea Hirata)
Judul Novel : Edensor
Pengarang : Andrea HirataPenerbit : Klub Sastra Bentang
Tahun terbit : 2007
Tebal buku : 306 hlm.
Harga buku : Rp.75.000,00
Salah satu yang terlihat menonjol di Buku ketiga dari tetralogi Laskar Pelangi adalah ingatan masa kecil dari tokoh utama sekaligus penulis buku ini, Andrea. Seperti saat Andrea harus menentukan arah kemana Ia dan Arai harus berjalan karena saat itu kompasnya ikut terampas oleh polisi di salah satu kota di Rusia. Saat itu Ia teringat kenangannya bersama Weh, seseorang dari masa lalunya, yang pernah mengajari bagaimana membaca rasi bintang yang sangat luas.ketika Ia bertemu dengan Imam masjid di Austria yang berasal dari Afghanistan, dia teringat dengan tokoh di masjid kampungnya, Taikong Hamim. Seorang tokoh agama di kampungnya yang telah membuat dirinya harus mencari nama pengganti bagi dirinya sendiri.
Buku ketiga dari tetralogi Laskar Pelangi ini menyuguhkan kepada pembaca, salah satu bentuk pengalaman dari seorang Andrea Hirata. Kisah-kisah di dalamnya merupakan simpul-simpul kejadian yang pernah Ia alami. Pendidikan, kisah romantisme, serta penjelajahannya menjadi media bagi dirinya menjalani kisah cintanya. Bagaimana semangatnya mencari A-Ling kemudian dia harus rela menerima hasil dari semangatnya itu. Kemudian bagaimana Ia tiba di Edensor, dalam sebuah perjalanan yang tidak direncanakan. Dan kejadian itu Ia jadikan simbol pertemuannya dengan A Ling.
Dan sebagai penutup dari resensi buku ketiga ini sebuah potongan kisah dari buku ini, ketika Andrea dan Arai dalam perjalanan pulang ke paris setelah selesai melakukan perjalanan sebagai backpacker,”….Tapi aku tetap merasa kesepian karena A Ling masih tak jelas rimbanya. Tak tahu lagi kemana mencarinya. Hanya dari novel kenangannya aku dapat menemukannya. Kubuka lagi novel lusuh itu, kubaca lagi keindahan desa khayalan Edensor untuk melipur rinduku.
Jalan-jalan desa menanjak berliku-liku dihiasi deretan pohon oak, berselang-seling di antara jerejak anggur yang ditelantarkan. Lebah madu berdengung mengerubuti petunia. Daffodil dan asturia tumbuh sepanjang pagar peternakan, berdesakan di celah-celah bangku batu. Di belakang rumah penduduk tumpah ruah dedaunan warna oranye, mendayu-dayu karena belain angin. Lalu terbentang luas padang rumput, permukaannya ditebari awan-awan kapas…
Sebuah kata wawancara menjadi sebuah undangan yang ditunggu-tunggu oleh Andrea dan Arai. Berbekal ijasah SMA keduanya mulai merantau ke tanah jawa. Dua kali mereka telah melakukan persiapan untuk menghadapi tes wawancara sebelum akhirnya mereka diterima bekerja sebagai sales peralatan dapur [untuk yang terakhir ini, mereka diterima bekerja tanpa tes wawancara sekalipun. Meski akhirnya mereka dipecat karena angka penjualannya memalukan.
Kemudian, Andrea diterima bekerja di sebuah kantor pos di Bogor sementara Arai bekerja sekaligus kuliah di kalimantan. Andrea senang menjadi Pengatur Muda Pos, wewenangnya adalah mencairkan wesel dengan nilai sampai seratus lima puluh ribu. Dan itu sangat berarti baginya karena dengan kekuasaannya itu dia bisa membantu para mahasiswa IPB yang miskin. Kemudian, setelah keduanya lulus kuliah, mereka mengikuti tes beasiswa untuk mengambil S-2 ke Eropa. Dan, mereka diterima di Sorbonne. Sebuah tempat yang belum pernah terbayangkan jauhnya. Yang mereka tahu hanyalah waktu tempuh yang akan mereka alami.
Dan, Andrea berusaha mencari A-Ling, kekasih hatinya yang telah terpisah sejak SMP untuk berpamitan. Dan Arai berpamitan kepada Zakia Nurmala, cintanya yang bertepuk sebelah tangan, melalui sepucuk surat.
Di tengah kehidupan perkuliahan di Eropa, keduanya juga mengalami banyak pengalaman baru. Menjadi orang yang berada ditengah persaingan mahasiswa luar negeri dirasakan sebagai pengalaman yang mengasyikkan. Perjalanan-perjalanan indah telah mereka ciptakan. Melakukan perjalanan di Eropa tanpa mengikuti paket pariwisata menjadikan perjalanan mereka lebih menyenangkan. Hal baru telah menjadi sahabat bagi semangat mereka berdua. Hingga keduanya melakukan perjalanan sebagai backpacker mengelilingi dua benua sekaligus. Eropa dan Afrika. Menjadi artis jalanan di berbagai tempat adalah buah hati bagi semangat mereka selama melakukan perjalanan itu.
Hingga akhirnya tibalah Andrea pada sebuah tempat yang dulu hanya bisa diceritakan oleh A-Ling setelah membaca sebuah novel. Edensor. Tempat yang ingin dituju oleh kekasih Andrea, seseorang yang telah menjadi bagian dari semangatnya.
Kehidupan masa kecil di Belitong telah meninggalkan bekas yang mendalam bagi seorang Andrea Hirata, tokoh utama sekaligus penulis buku ini. Pertemuannya dengan Weh, seorang pelaut kapal kecil di kampungnya, telah membuat dirinya bangga sebagai laki-laki, sebagai navigator alam. Bagaimana Iamengenang malam itu, malam dimana Weh mengajarkan cara membaca petunjuk alam. Dengan menggambari langit, Andrea terkagum-kagum kepada alam semesta.
Bagaimana Ia harus mencari sendiri sebuah nama sebagai pengganti namanya yang harus diganti. Dan Ia telah menemukan nama itu, mengadopsi nama seorang wanita Italia, Andrea Galliano yang mengancam bunuh diri apabila Elvis Presley tidak membaca suratnya. Dan tahukah Anda dimana dia menemukan nama itu? Nama itu tertulis pada sebuah artikel di majalah yang Ia baca.
Pengalaman – pengalaman di atas adalah beberapa mimpi yang telah dialami oleh seorang Andrea Hirata. Bagaimana Ia teringat pengalaman masa kecilnya ketika dia menjadi seorang backpacker. Baginya, pengalaman masa kecil di sebuah kampung di Belitong telah membawa dirinya menikmati menjadi seorang backpacker di daratan Eropa dan Afrika.
Dan kecintaanya pada seorang wanita keturunan cina, Njoo Xian Ling juga turut Ia bawa serta dalam perjalanan itu. Kemana-mana Ia akan menemui seseorang yang bernama A Ling yang telah Ia dapatkan melalui internet. Itu semua Ia lakukan demi menghabisi rasa penasarannya dimana A Ling berada, seperti apakah A Ling kini. Keinginannya bertemu A Ling dihidupi oleh kenangan indah pada saat Ia menaiki komedi putar bersama A Ling dan sebuah buku, kado dari A Ling.
Dan pada akhirnya, pada sebuah perjalanan di Inggris yang tidak Ia rencanakan, dirinya terpaku pada suatu lukisan hidup, seperti lukisan yang ada di buku novel, kado dari A Ling. Andrea telah berada di sebuah tempat bernama EDENSOR, Inggris.
Semua cerita yang terdapat dalam buku ketiga dari tetralogi laskar pelangi adalah simpul dari impian penulis pada masa kecil. Dan telah Ia alami sewaktu menjadi seorang backpacker di dua benua. Di resensi ke satu dari buku ini saya menyuguhkan, bagaimana seorang Andrea Hirata menceritakan pengalmannya mengalami hal – hal baru dan bahkan hal – hal yang telah Ia lakukan dulu yang kini mengalami ujung peristiwanya. Seperti pada saat Ia bertemu, bersalaman dan beramah tamah dengan Andrea Galliano [pemilik nama yang telah Ia pilih sendiri semasa kecil], pada sebuah pembukaan museum khusus Elvis Presley. Serta bagaimana Ia akhirnya sampai di daratan bernama Edensor, sebuah tempat yang dulu hanya dilukiskan keindahannya oleh A Ling, seseorang yang telah memberi kekuatan dalam perjalanannya.
Kekurangan dari novel ini adalah banyaknya istilah-istilah dan kalimat-kalimat yang sulit dimengerti oleh pembaca, seperti pada istilah Gracias senor dan la niege au sahara. Dan pada kalimat “…. Aku ingin menghirup berupa-rupa pengalaman lalu terjun bebas menyelami labirin lika liku hidup yang ujungnya tak dapat disangka. Aku mendamba kehidupan dengan kemungkinan-kemungkinan yang bereaksi satu sama lain seperti benturan molekul uranium: meletup tak terduga duga, menyerap, mengikat, mengganda, berkembang dan terurai…..”.
Dan pada akhir cerita yang membuat kita penasaran, novel ini hanya menceritakan ketika ikal menemukan desa khayalan A-Ling, Edensor. Bukan ikal bertemu dengan A-Ling. Sehingga rasanya kita diwajibkan membaca novel keempat Andrea Hirata, Marymah Karpov yang merupakan novel kelanjutan dari Edensor. Novel ini menceritakan tentang seorang wanita yaitu A-Ling.
Kelebihan dari buku ini yaitu kemampuan penulis menggambarkan tokoh-tokoh dalam novel Edensor yang dapat sangat kuat sehingga membuat pembaca terbawa dalam cerita ini. Dan novel ini juga dapat membawa pembaca seakan-akan mengalami sendiri pertiwa-peristiawa yang terjadi di novel ini.
Edensor sangat cocok bagi siswa SMA dan universitas yang dapat memotivasi semangat belajar mereka. Karena dapat memotivasi semangat belajar mereka. Karena novel ini menceritakan Ikal dan Arai yang tidak menduga kalau mereka dapat beasiswa untuk belajar ke Perancis, Eropa. Dan juga semangat penulis yang kokoh walau diterjang penderitaan. Dan Penulis sepertinya mengharapkan para pembaca agar mencontoh watak tokoh utama dalam mengarungi kehidupan.
Nilai-nilai sosial yang dapat dipetik dari buku ini adalah semangat juang dua orang laki-laki yang berkibar-kobar demi menempuh pendidikan dan pencarian cinta mereka.
Resensi Perahu Kertas
Judul : Perahu Kertas
Penulis : Dewi Lestari (Dee)
Penerbit : Truedee
Cetakan : XVI
Tebal : 444 halaman. ; 20 cm
ISBN ` : 978-797-1227-78-0
Dewi
Lestari atau yang dikenal dengan sebutan Dee memang seorang penulis
yang sarat akan kualitas tulisannya. Saya pun semakin yakin akan hal itu
setelah selesai membaca Perahu kertas. Suatu karya saya anggap bagus
jika setelah membacanya saya akan termenung dan menemukan sudut pandang
baru dalam hidup. Saya temukan itu pada Tulisan Dee.
Bagian
awal baca buku ini memang tidak terlalu mencerminkan gaya tulisan Dee.
Tulisan dee terlalu dewasa untuk menulis kehidupan remaja. Tapi
sepertinya saya salah, Dee menulis gaya dengan gaya remaja begitu mulus
dan hampir sempurna. Novel
ini menceritakan tentang persahabatan yang menjadi cinta, tentang cinta
untuk cita dan tetang cita yang harus selalu dikejar. Sebut saja Kugy.
Mungil. Berantakan. Penghayal. Suka nulis dongeng. Bertemu dengan
Keenan. Cerdas. Tampan. Gondrong. Artistik dan penuh kejutan. Dari
tangannya, mampu menggoreskan lukisan-lukisan magis dan penuh
inspiratif.
Awal
Kisah Keenan yang tinggal di Amsterdam - permintaan ayahnya yang tidak
suka anaknya menjadi pelukis- pulang ke Jakarta dan Kuliah di Bandung.
Jurusan Managemen. Pilihan ayahnya. Disanalah dia bertemu dengan Kugy.
Sahabat Eko dan Noni. Eko dan Noni sudah lama pacaran. Sementara Kugy long distance dengan Ojos di Jakarta. Dari sana timbulah benih-benih cinta antara Kugy dan
Keenan. Namun tak ada yang tau. Noni berencana menjodohkan Keenan dengan Wanda. Anak pemilik Galeri Warsita-Galeri terbaik di Jakata-. Berkat jasa Wanda, lukisan Keenan mampu bertengger di dinding galeri. Tak ada yang membeli lukisannya, takut Keenan kecewa, Wanda pun membeli keempat lukisan itu.
Keenan. Namun tak ada yang tau. Noni berencana menjodohkan Keenan dengan Wanda. Anak pemilik Galeri Warsita-Galeri terbaik di Jakata-. Berkat jasa Wanda, lukisan Keenan mampu bertengger di dinding galeri. Tak ada yang membeli lukisannya, takut Keenan kecewa, Wanda pun membeli keempat lukisan itu.
Sementara Wanda semakin dekat dengan Keenan, Kugy merasa ada yang aneh dalam dirinya. Dia merasa jealous
pada Keenan, pertanda cinta mulai terasa. Hubungan Kugy denga Ojos
semakin retak dan akhirnya putus. Noni tidak mengerti dengan perubahan
sikap Kugy, apalagi semenjak poyek pencoblangan Keenan dengan Wanda
dimulai. Akibatnya Kugy semakin jauh dengan Noni sampai 2 tahun lamanya.
Tak
lama, akhirnya Keenan mengerti bahwa lukisannya masih mentah dan yang
terjual itu hanyalah akal-akalan Winda agar Keenan tetap bersemangat
melukis dan dekat dengannya tentu. Keenan sudah meninggalkan kuliahnya
dan merasa dirinya hancur. Setelah ketemu Kugy dia mulai termotivasi
kembali untuk melukis. Akhirnya dia harus meninggalkan semua kehidupan
yang lama dan tak ada seorangpun yang diberi tahu tentang itu. Hanya
ibunya yang tau.
Waktu
berjalan begitu cepat, Keenan memiliki kehidupan sendiri di Bali dengan
Ki Wayan-teman lama ibunya Keenan- dan Luhde-Gadis muda berparas cantik
yang selalu menemani Keenan melukis-. Belum lama berada di Bali,
lukisan Keenan kembali diburu kolektor dari Jakarta. Dia mampu
menghidupi dirinya sendiri dari uang hasil melukis. Namun dia mulai
tersadar ketika lukisannya tak pernah hidup tanpa tulisan tangan dongeng
yang ditulis oleh Kugy. Semuanya buntu. Keenan tak bisa melukis lagi.
Kugy pun memiliki kehidupan baru. Selepas wisuda, dia langsung diterima magang sebagai copy Writer di salah satu perusahaan periklanan milik Remi. Remi jatuh hati pada Kugy yang diangkat menjadi Project Leader karena ide-ide Kugy yang masih natural dan menarik bagi Client. Kugy dan Remi resmi pacaran walaupun hati Kugy sepenuhnya masih berharap Keenan kembali.
Saat
Noni dan Eko bertunangan, saat itu pula mereka berempat Reoni bersama
kembali. Noni sadar akan kesalahannya menilai Kugy dan mereka pun
baikan. Kugy dan Keenan merasa canggung bersama kembali. Keenan yang
pulang ke Jakarta kala itu karena ayahnya sakit Stuk langsung membawa
Kugy berbostalgia ke Bandung dan Kampung alit. Mereka dua berbahagia.
Namun ada ganjalan besar dari hati mereka, mereka memiliki pasangan
masing masing. Kugi dengan Remi. Keenan dengan Luhde.
Cinta
memang tak pernah memilih, namun cinta itulah yang dipulih. Setelah
lama menjalani kehidupan masing-masing. Luhde mulai mengerti bahwa cinta
keenan bukan untuk nya. Di lain pihak Remi pun mengerti dengan isi
hati Kugy. Kugy dan Keenan akhirnya bersatu.
Selama
hidupnya sejak awal lahir sampai kembali hidup bersama dengan Keenan,
Kugy selalu mengirimkan curhatan perasaannya ke Dewa neptunus di laut
maupun di sungai. Ia menganggap dirinya sebagai agen rahasia Neptunus.
Curhatan itu dalam bentuk perahu kertas yang dihanyutkan ke Air. Itulah
sebabnya Novel ini berjudul Perahu Kertas.
Hampir
seluruh cerita dipahat dengan kesempurnaan. Tapi ada beberapa yang
tidak saya suka dari bukunya Dee yang satu ini. Banyak penggunaan
kata-kata kasar yang ada didalamnya. Bahkan ada satu yang teringat bahwa
kata kasar itu adalah panggilan sayang. Saya kurang ngeh pada bagian ini. Selain itu juga epilog cerita ini agak kabur.
Saya menangkap salah satu pesan moral yang akan disampaikan adalah ”mengejar passion”.
Kejarlah apa yang kita inginkan dan ikuti kata hati. Jika kita memang
senang menjadi seorang pelukis lanjutkan melukis dan jika memang
keinginan kita menulis lanjutkan sampai berhasil. Bakat tidak datang
dari Langit yang ujug-ujug datang pada kita. Tapi kita
harus meraih itu menjadi milik kita. Walaupun kita bisa melakukan
pekerjaan lain dengan baik dan berhasil namun kita tidak menyukai
pekerjaan itu. Tinggalkan sekarang.. dan lakukan pekerjaan yang ingin
anda lakukan.

0 comments:
Post a Comment